Novel Kematian Tuhan
Oleh M. Guntur Romli
11/07/2006
Tulisan ini mengulas sebuah novel termasyhur sastrawan Mesir Naguib Mahfouz, “Awlâd Hâratinâ”, dimuat di rubrik sastra Koran Tempo Minggu dua edisi: 4 Juni 2006 “Terusir dari Rumah Besar” dan 11 Juni 2006 “Anak-cucu Al-Gabalawi”
Terusir dari Rumah Besar
NOVEL penting Naguib Mahfouz, sastrawan Mesir peraih Nobel 1988, Awlâd Hâratinâ (Anak-anak Kampung Kami) kembali menyulut kontroversi di negerinya. Inilah novel yang telah menghujani Mahfouz dengan pujian sekaligus fatwa kematian! Sekalipun telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia--dengan edisi Inggris dalam dua versi, The Children of Gebelawi dan Children of The Alley--novel ini tetap saja diharamkan terbit di Mesir.
Di awal tahun ini, Dâr al-Hilâl, sebuah penerbit Mesir, berhasrat menerbitkan novel yang sudah berusia 47 tahun ini. Gayung tidak bersambut, iktikad Dâr al-Hilâl seakan ditentang oleh penulisnya sendiri. Dikhawatirkan penerbitan ini akan menyulut prahara. Jika pun hendak diterbitkan di Mesir, Mahfouz memberi dua syarat: pertama, harus ada persetujuan dari Universitas al-Azhar; kedua, ada pengantar dari seorang tokoh Ikhwanul Muslimin Mesir. Dua syarat yang disodorkan oleh novelis ini ditentang oleh mayoritas sastrawan dan intelektual Mesir. Menurut mereka, sikap itu akan semakin membenarkan keberingasan al-Azhar untuk memburu buku-buku yang dianggap bertentangan dengan Islam.
Awalnya, novel tersebut berasal dari cerita bersambung yang dimuat di harian Mesir al-Ahrâm pada penghujung 1959. Pemuatan itu diprotes oleh ulama al-Azhar yang sekaligus tokoh Ikhwanul Muslimin--Syekh Muhammad Al-Ghazali, Syekh Muhammad Abu Zahrah, dan Syekh Ahmad Al-Syurbashi. Mereka mendesak Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir saat itu, melarang penerbitan novel itu dalam bentuk buku.
Kebetulan Nasser pun jengah dengan karakter Al-Gabalawi dalam novel Mahfouz, seorang ayah yang otoriter dan kasar. Bagi si presiden dan para pembantunya, Al-Gabalawi adalah personifikasi Nasser sendiri. Lebih dari itu, Mahfouz seakan menyuguhkan secara kasat mata kisah masyarakat pinggiran kota Kairo yang secara moral, ekonomi, dan sosial sangat terpuruk. Novel itu seperti menyindir kegagalan pemerintahan Nasser dalam memajukan masyarakat Mesir. Memang, akhirnya, ia tak pernah terbit dalam bentuk buku di negerinya sendiri.Anak-cucu Al-Gabalawi
MINGGU lalu kita membaca bagaimana dalam novel Naguib Mahfouz Awlâd Hâratinâ (“Anak-anak Kampung Kami”), Adham bersama istrinya, terusir ke Kampung dari Rumah Besar oleh bujukan Idris.
Dalam kehidupan sebagai orang usiran itu lahirlah dua anak mereka, Hamam dan Qadri. Kelak kemudian, sebagaimana kisah Habil (Abel) dan Qabil (Cain), Qadri yang pendengki membunuh Hamam. Pembunuhan ini menjadi dosa pertama anak-cucu Al-Gabalawi, si pemilik Rumah Besar.
Agar anak-cucunya tidak saling menumpahkan darah di Kampung, Al-Gabalawi berupaya agar segala aturannya ditaati. Dia memerlukan manusia pilihan di setiap generasi untuk melestarikan aturan-aturannya. Dan dia memilih tiga orang dari keturunannya secara bergantian--Gabal, Rifa’ah dan Qasim.
Sejak Adham wafat, Kampung senantiasa diliputi kejahatan. Al-Gabalawi memilih seorang pemuda gagah perkasa, Gabal namanya. Dengan kekuatannya, si pemuda hendak mengembalikan keadilan dan ketentraman di Kampung. Meski ia kuat, Gabal sangat membenci permusuhan dan kekerasan. Namun dalam Kampung yang dikuasai berbagai kekuatan jahat, ia terpaksa menggunakan kekuatannya.
Tuesday, May 29, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment